Sejarah

SEJARAH



Institut Agama Islam Negeri Batusangkar yang disingkat dengat dengan nama IAIN BATUSANGKAR merupakan salah satu perguruan tinggi negeri agama di Indonesia yang berada di Kabupaten Tanah Datar propinsi Sumatera Barat. Perguruan Tinggi Agama Islam ini berdiri resmi pertama kali berdasarkan Keputusan Menteri Agama tentang Pendirian Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri batusangkar berbentuk Sekolah Tinggi. Sesuai dengan harapan masyarakat Tanah datar untuk memiliki perguruan tinggi yang “tegak sama tinggi, duduk sama rendah” dengan perguruan tinggi lainnya, tentu saja semuanya melalaui proses perjuangan yang cukup panjang sampai akhirnya diresmikan pada tanggal 30 Juni 1997. Berdasarkan Kepres No. 11/1997 dan Surat Keputusan Menteri Agama RI No. 285/1997 mengubah status dari Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Batusangkar.

Sejarah berdirinya Jurusan Hukum Tata Negara (Siyasah) Fakultas Syariah pada IAIN Batusangkar, tidak terlepas dari sejarah Kabupaten pertama yang memiliki Perguruan Tinggi sebagai cikal bakal berdirinya Universitas Negeri Padang dan Universitas Andalas Padang. Suatu hal yang sangat membanggakan dalam sejarahnya di Sumatera Barat faktor keberagamaan masyarakat Sumatera Barat sebelum Kemerdekaan berdirilah Sekolah-sekolah Islam dengan konsep surau dan pondok pesantren Pola pendidikan Islam yang diajarkan sudah memadukan konsep agama dan umum, tetapi tetap didominasi oleh ajaran Pendidikan Agama Islam. Di Sumatra Barat dengan Adatnya Minangkabau khususnya di zaman penjajahan Belanda dan Jepang pendidikan didominasi oleh sekolah-sekolah Islam yang salah satunya berdirinya Sumatra Thawalib yang didirikan di Padang Panjang. Pertumbuhan gerakan Islam juga pesat di Sumatra Barat  yang dikenal dengan gerakan pembaharuan Islam yang terjadi  1900-1942 dimana berdiri berbagai partai politik yang berideologi Islam seperti Serekat Islam, Muhammadyiah dan berbagai politik lainnya yang cikal-bakal mendirikan sekolah Islam yang waktu itu disebut dengan pesantren atau madrasah dan muridnya dikenal dengan sebutan santri.
Awal tahun 1940-an di Sumatera, tepatnya di wilayah Padang Sumatera Barat pada tanggal 9 Desember 1940 sudah berdiri perguruan tinggi Islam yang dipelopori oleh Persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI) yang dipimpin oleh Muhmud Yunus.  Menurut Muhmud Yunus perguruan tinggi ini adalah perguruan tinggi Islam pertama di Sumatera Barat dan pertama di Indonesia.

Namun sayang, usia perguruan tinggi ini hanya hitungan bulan, karena pada tahun 1941 ketika Jepang masuk ke Sumatera Barat perguruan tinggi ini ditutup. Jepang hanya mengijinkan sekolah tingkat dasar dan menengah. Dalam referensi lain disebutkan bahwa Jepang masuk ke Padang Maret 1942, sehingga tahun ditutupnya perguruan tinggi Islam ini adalah tahun 1942.
Dalam kesempatan lain, tepatnya di kongres II MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) yang diadakan di Solo pada tanggal 2-7 Mei 1939 yang dihadiri oleh 25 organisasi Islam. Hasil kongres mendukung pendirian perguruan tinggi Islam. Maka setelah kongres selesai didirikanlah perguruan tinggi Islam di Solo yang dimulai dari tingkat menengah dengan nama IMS (Islamishe Midilbare School). Namun sayang, kembali negera penyemban Matahari alias Jepang menutup lembaga pendidikan ini pada tahun 1941 dengan alasan pecah Perang Dunia II.  
Baru setelah kemerdekaan di Batusangkar pada tahun (1954 – 1956) PTPG Batusangkar yang berada di Bukit Gombak dibukalah enam jurusan keilmuan, yaitu Jurusan Bahasa Indonesia, Jurusan Sejarah, Jurusan Bahasa Inggris, Jurusan Ekonomi, Jurusan Ilmu Pasti, dan Jurusan Biologi. Tetapi, banyak mahasiswa angkatan pertama pindah ke PTPG Bandung dan ke PTPG Malang karena perkuliahan belum berjalan menurut semestinya. Akibatnya, sedikit sekali mahasiswa yang bertahan. Karena itu, jurusan yang semula berjumlah enam berkurang menjadi empat jurusan yang masih ada mahasiswanya, yakni Jurusan Bahasa Indonesia, Jurusan Sejarah, Jurusan Ekonomi. dan Jurusan Matematika. Namun, pada tahun 1955 dibuka lagi sebuah jurusan baru yaitu Jurusan Hukum yang kemudian tercatat sebagai jurusan yang pertama menghasilkan sarjana pendidikan pada tahun 1964. Pada tahun 1956 PTPG di seluruh Indonesia diintegrasikan ke universitas setempat. Walaupun pengintegrasian itu merupakan perubahan status, bagi PTPG Batusangkar yang diintegrasikan ke dalam Universitas Andalas Bukittinggi, kebijakan itu hampir tidak mempengaruhi program-program sebelumnya. Pergolakan daerah yang terjadi waktu itu menyebabkan sedikit kemacetan dalam pelaksanaan program perkuliahan selama satu tahun, yaitu selama tahun 1957 sampai awal 1958.
Namun dalam perkembangannya pada tahun 1958 perjalanan PTPG ini ditarik ke Padang dan statusnya berubah menjadi IKIP Padang.  Keadaan ini menyebabkan masyarakat Tanah Datar kehilangan asset yang sangat berharga dan pada saat itu tak ada satupun perguruan tinggi yang ada di kabupaten Tanah Datar.
Hal demikin menimbulkan motivasi dan keinginan yang kuat pada masyarakat dan pemerintah daerah kabupaten Tanah Datar untuk memiliki sebuah perguruan tinggi guna menampung para pelajar tamatan pondok pesantren, PGA dan Sekolah Menengah lainnya. Membahas tentang pesantren atau disebut dengan pondok pesantren di Sumatra Barat dahulu terdapat sebuah lembaga pendidikan yang amat penting dan berpengaruh di Minangkabau adalah Sekolah Thawalib. Sekolah ini timbul dari pola pembelajaran di surau yang disebut Surau Jembatan Besi. Sekolah ini memberikan ajaran-ajaran agama dengan cara-cara tradisional dan unik yakni para santrinya belajar dan tinggal disurau yang tidak mungkin ditemukan dizaman modern seperti sekarang. Namun tamatan Sumatra Thawalib ini berhasil mempropagandakan filsafasat yang populer dengan sebutan ilmu kominih yang biasa menggabungkan dengan ide marxis anti kapitalis dan anti imperialis.
Sementara di daerah tingkat 11 lainnya telah berdiri pula fakultas keagamaan seperti Fakultas Ushuluddin di Padang Panjang, fakultas dakwah di Solok, Fakultas syariah di Bukittinggi dan Fakultas Adab di Payakumbuh. Keadaan ini semakin mendorong Tanah Datar untuk segera mendirikan pula suatu perguruan tinngi Islam di Tanah Datar. Dalam masa perubahan sosial ini banyak inovasi terjadi pada dampak introduksi nilai, sistem, komuniti dimana proses pelembagaanya senantiasa memakan waktu dan tidak jarang penuh ketegangan, keresahan, konflik dan benturan. Upaya pembentukan sebuah perguruan tinggi agama Islam di Batusangkar pada akhirnya resmi berdiri pada tahun 1968, dimulai dengan pembentukan panitia persiapan pendirian perguruan tinggi agama Islam yang diketuai oleh Mahyuddin Algamar (Bupati Tanah Datar saat itu). Melihat personil yang berperan memperlihatkan bahwa pendirian perguruan tinggi ini didukung oleh semua unsur baik pemerintah maupun masarakat. Setelah panitia selesai dibentuk dan berjalan beberapa bulan statusnya ditingkatkan menjadi fakultas tarbiyah swasta yang berlokasi di Kubu Rajo Lima Kaum.

Usaha ini semakin didukung oleh antusias masarakat yang dibuktikan dengan menyerahkan putra-putri mereka untuk melanjutkan pendidikan mereka disini.  Realita tersebut menjadi potensi utama untuk beralihnya status swasta menjadi sebuah fakultas yang berada dalam naungan institut agama Islam Negri (IAIN) imam bonjol Padang. Peralihan tersebut berdasarkan keputusan Menteri Agama RI No. 238 tanggal 20 mai 1971. Dengan demiukian fakultas swasta ini resmi berubah menjadi fakultas tarbiyah negri dengan status muda yang artinya hanya bisa membuka program program pendidikan tingkat sarjana muda. PERIODE 2 Ditengah perjalalan yakni pada tahun 1974 Fakultas Tarbiyah Imam Bonjol Batusangkar mengalammi goncangan yakni munculnya sebuah peraturan rasionalisasi Fakultas dalam lingkungan IAIN se-Indonesia. Hal ini berarti Fakultas Tarbiyah Batusangkar tidak dibenarkan lagi menerima mahasiswa baru karena akan ditarik ke IAIN Imam Bonjol Padang. Namun berkat usaha dari seluruh unsur baik civitas akademmika, prmerintah daerah dan masyarakat Tanah Datar yang gigih maka Fakultas Tarbiyah Tanah Datar tidak jadi ditarik ke Padang. Untuk itu pada tahun Rektor IAIN Imam Bonjol Padang memperkenankan Fakultas Tarbiyah Batusangkar menerima mahhasiswa baru dengan beberapa persyaratan sebagai berikut: harus ada asrama mahasiswa, harus ada yayasan penyantun dan terakhir jumlah mahasiswa minimal 40 orang. Pada akhirnya semua persyaratan tersebut dapat dipenuhi oleh Fakultas Tarbiyah Batusangkar. Kenyataan ini perlu digaris bawahi dan dalam cerita sejarah memang inti ungkapannya berupa genesis peristiwa tertentu. Dimana pemikiran anak didik perlu dilatih untuk berfikir secara rasional, empiris kritis, realitas namun bukan mengesampingkan imajinasi sebagai unsur pikiran yang sangat penting. Ini untuk menghargai perjuangan yang dilakukan demi mempertahankan sekolah atau Fakultas Tarbiyah Batusangkar.
 Selanjutnya berdasarkan Keputusan Mentri Agama No. 69/1982 Fakultas Tarbiyah ini meningkat statusnya dari Fakultas Muda menjadi Fakultas Madya. Dengan demikian sejak tahun 1982 Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar berhak menyelenggarakan perkuliahan tingkat doktoral dengan jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). Pada tahun akademik 1992/1993 Fakultas Tarbiyah membuka jurusan bahasa Arab (PBA). Pembukaan jurusan baru ini disebabkan karena adanya adanya tuntutan bahwa setiap fakultas madya diwajibkan memiliki sedikitnya 2 jurusan dan pada tahun akademik 1996/1997 dibuka lagi satu jurusan baru yakni jurusan kependidikan Islam.
Dan akhirnya setelah kurang dari 26 tahun Fakultas Tarbiyah Batusangkar berubah statusnya menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negri( STAIN) berdasarkan Keputusan Presiden No. 11/1997 dan Surat Keputusan Mentri Agama dan statusnya disamakan dengan berbagai perguruan tinggi lainnya. Dengan keputusan ini maka seluruh unsur-unsur yang ada di fakultas tarbiyah imam bonjol Batusangkar beralih menjadi aset STAIN Batusangkar.
Dengan beralih status menjadi STAIn maka pada tahun 1998 dibukalah program Studi Baru dengan nama Hukum Tata Negara. Akhirnya pada tahun 2002 Menteri Agama mengeluarkan SK pendirian Program Studi AS Nomor: Dj.II/186/2002 pada Jurusan Syariah. Dalam Perkembangannya Prodi AS pada STAIN Batusangkar mempunyai tugas pokok yaitu menyelenggarakan pendidikan tinggi, penelitian dan pengabdian masarakat dibidang ilmu pengetahuan agama Islam, teknologi dan seni yang bernafaskan islam sesuai dengan peraturan undang-undang yang berlaku. Maka untuk menyelesaikan tugas pokok tersebut  STAIN Batusangkar mempunyai visi dan misi sebagai berikut: Merumuskan kebijakan dan perencanan program, Menyelenggarakan pendidikan dan dan pengajaran ilmu pengetahuan agama islam dan teknologi serta seni yang bernafaskan islam, Melaksanakan pengabdian masyarakat, Melaksanakan pembinaan kemahasiswaan, Melaksanakan kegiatan civitas akademika dan hubungannya dengan lingkungan, Melaksanakan kerjasama dengan perguruan tinggi atau lembaga-lembaga lain untuk kemajuan bersama, Menyelenggarakan administrasi dan manajemen, Pelaksanaan pengendalian dan pengawasan keadaan, Melaksanakan penelitian prestasi dan proses penyelenggaraan kegiatan.
 Selama perkembangannya STAIN Batusangkar cukup memperlihatkan kemajuan diantaranya jumlah mahasiswanya yang cukup tinggi yang bersal dari daerah sumbar bahkan ada yang berasal dari luar sumbar ini menunjukkan kualitas yang cukup bagus yang dicapai oleh sekolah tinggi ini. Mengenai fasilitas yang dimiliki STAIN sampai pada saat ini sudah cukup lengkap diantaranya: ruang kuliah, perpustakaan, laboratorium, lembaga penelitian, fasilitas lainnya seperti wartel, rental komputer,LBH dan sarana olah raga.
Dengan melihat proses panjang yang dilalui oleh STAIN Batusangkar (STAIN) ini maka besar hapan kita semua agar sekolah ini dapat terus bertahan dan meningkatkan kualitasnya baik dalam bidang akademik maupun bidang non akademik salah satunya menambah koleksi buku-buku yang ada diperpustakaannya dan memperbaharui fasilitas-fasilitas lainnya yang dirasa perlu. Ini semua tentunya tak lepas dari peran pemerintah, civitas akademika dan dukungan masyarakat sekitar untuk kemajuan institusi pendidikan yang merupakan akses berharga diTanah Datar yang akan mencetak lulusan yang nantinya akan tersebar diberbagai instasi baik swasta maupun instansi pemerintah.
Untuk itu semua elemen harus berperan dalam memajukan pendidikan melalui sekolah tinggi ini. Pada tanggal 23 Desember 2015 STAIN Batusangkar Menjadi IAIN Batusangkarmelalui Peraturan Presiden No 147 Tahun 2015 tanggal 23 Desember 2015 dan diundangkan pada tanggal 28 Desember 2015.
Dengan demikian di Sumatera Barat ada tiga IAIN yang ketiganya bernaung di bawah Kementerian Agama RI, yaitu: IAIN Imam Bonjol Padang, IAIN Bukittinggi dan IAIN Batusangkar. IAIN Batusangkar tersebut akhirnya tertuang pada penilaian Akreditasi Institusi yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN-PT) selaku Badan/Lembaga yang berwenang mengeluarkan akreditasi untuk seluruh perguruan tinggi di Indonesia dengan Nilai Akreditasi "B" berdasarkan SK No.942/SK/BAN-PT/Akred/PT/VIII/2015 tanggal 29 Agustus 2015 (5 thn).

0 komentar :